Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts

Aku

Aku hanyalah jiwa hampa
Tatkala tak ada sisi religius
yang membius lamunanku
Dalam sekejap
secepat mata berkedip
dalam satuan cahaya

Beginilah jiwa
yang haus dahaganya
menemukan sungai spritual
yang mampu menerangi
ruang tanpa sinar
yang jua mampu membidik
tanpa anak panah

Dengan segala keakuan diriku
Tak cukup untuk diri ini
menghadapi keperihan yang hadir
Tak jua cukup untuk diri ini
menyambut kesulitan itu
dengan senyuman mesra

Sebuah kata terkadang tak cukup
membuat rasa menjadi beda
Sebuah prjuangan juga
terkadang tak cukup membuat dera
terhenti begitu saja

Tapi Ia
dengan segala kuasaNya
Menguatkan diriku

Aku seorang biasa
Kadang aku tanpa cinta
Kadang aku juga tanpa warna
Aku hanya punya banyak cerita

Cerita tentang kebiasaanku, cintaku, dan warna itu
Aku hanya ingin ada seseorang

Saat aku bukan siapa-siapa
Sampai aku menjadi sesuatu............................

2008




 

Berita Duka

innalillahi Wa Innailaihi Roji'un

telah wafat gerakan mahasiswa
begitu tertulis di sebuah koran
sebuah berita duka yang membuatku turut berduka
ikut menangis meski meski aku suka

tiba-tiba
emosiku meninggi setinggi birahi kala melihat tante seksi
tiba-tiba
pikiranku melayang sejauh elang terbang meninggalkan sarang
tiba-tiba
aku hanya bisa menyalahkan seperti kerasnya seonggok karang
tiba-tiba
teringat sebuah bayang-bayang

dulu kau memang seperti anjing yang selalu menunggu daging
terikanmu tak sederas terjunnya air kencing
kau serius menjadi maling
disibukkan untuk mengumpulkan beling

innalillahi wa innailihi roji'un

anjing, kau lah anjing yang menunggu daging
di megaphone itu kau berteriak dan mencatut namaku
perjuanganmu tak tulus hanya mencari pulus
karena itu kau sekarang mati

atau mungkin karena otakmu yang anti resah
atau jiwamu yang bermental sok kuasa

innalillahi wa innailaihi rojiun

kenapa kau mati sebelum berhasil merajut takzim
kenapa kau tewas sebelum berhasil menumbangkan rezim
kenapa kau meninggal sebelum kau berhasil menjadi pemimpin

kenapa
kenapa
dan kenapa
kenapa aku bertanya karena aku sebenarnya cinta

Puisi Untuk Siti

Puisi Untuk Siti

 
Siti Zaenab catatlah hari ini
hari dimana kau dieksekusi mati
bangsamu diam, tiada menangisi
sebisu pemerintah yang sedang sibuk urus upeti

Siti Zaenab, kau mati bukan tanpa sebab
kau tinggalkan desamu yang sejuk lembab
memutuskan pergi ke negri arab
karena tanahmu telah dirampas dengan biadab

Siti Zaenab yang telah meninggal
semua yang berakhir pasti berawal
kau mati akibat kongkalikong intelektual 

orang kampus yang bekerja pada kapital
juga penyemir sepatu jendral yang menuhankan pemodal

Siti Zaenab hari ini di hukum mati
pembunuhnya bukan hanya kebodohan negeri ini
tapi juga kalian

kalian yang merampas tanah, membantu donor
kalian yang mengusir warga desa, demi serenceh honor
kalian yang mengabdi pada penguasa, medalilkan data-data kotor

tapi ingat, matinya siti laksana api
api yang membakarmu di neraka abadi


Tedi Cho
 Jakarta, 14 April 2015 

Tujuan Kita Satu Ibu (Wiji Thukul)


kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."

kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan

kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu

tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!

kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk

kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak

4 Juli 1997


Peringatan (Wiji Thukul)


jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato 
kita harus hati-hati 
barangkali mereka putus asa 

kalau rakyat sembunyi 
dan berbisik-bisik 
ketika membicarakan masalahnya sendiri 
penguasa harus waspada dan belajar mendengar 

bila rakyat tidak berani mengeluh 
itu artinya sudah gawat 
dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah 
kebenaran pasti terancam apabila 

usul ditolak tanpa ditimbang 
 suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan 
dituduh subversif dan mengganggu keamanan 
maka hanya ada satu kata: lawan! 

Wiji Thukul
Solo, 1986